e8ae1aeb-55e3-4569-b1ec-3edd667dc595

Jurnalis Juga Buruh

02 Mei 2026 14:23
IMG-20260501-WA0081

Opini, Borneoindotimes.com – Di mata publik, profesi jurnalis kerap dipandang istimewa. Mereka hadir di ruang-ruang penting, mewawancarai pejabat, meliput peristiwa besar, dan menjadi penghubung informasi antara masyarakat dengan pusat-pusat kekuasaan. Dari layar gawai, koran, televisi, hingga media sosial, hasil kerja mereka dikonsumsi setiap hari.

Namun di balik citra itu, ada realitas yang kerap luput dibicarakan: jurnalis juga buruh.

Sebagai pekerja, jurnalis menjual tenaga, waktu, pikiran, dan keterampilannya kepada perusahaan media. Mereka dibebani target produksi, dituntut bekerja cepat, akurat, dan multitasking dalam ritme industri media yang semakin kompetitif. Sayangnya, beban kerja tinggi itu tidak selalu berbanding lurus dengan perlindungan dan kesejahteraan yang memadai.

Jam kerja jurnalis nyaris tanpa batas seperti pagi mengikuti agenda resmi, siang mengejar narasumber, sore menulis berita, malam memantau perkembangan isu, bahkan dini hari masih bersiaga ketika terjadi peristiwa mendadak. 

Dalam praktiknya, konsep delapan jam kerja sering kali hanya menjadi formalitas yang sulit diterapkan di ruang redaksi.

Tekanan itu semakin berat di era digital. Jurnalis tak lagi sekadar menulis berita, tetapi juga dituntut mengambil foto, merekam video, membuat konten media sosial, hingga melakukan siaran langsung. Satu orang kerap memikul pekerjaan yang sebelumnya ditangani beberapa divisi berbeda.

Ironisnya, di banyak tempat kondisi tersebut belum sepenuhnya diimbangi dengan upah layak, jaminan sosial optimal, perlindungan keselamatan kerja, maupun dukungan kesehatan mental. Tidak sedikit jurnalis bekerja dalam status kontrak tidak pasti, honor minim, tetapi dengan tuntutan kerja yang terus meningkat.

Padahal jurnalis menjalankan fungsi penting dalam demokrasi. Mereka memastikan publik mendapat akses informasi yang akurat, mengawasi jalannya kekuasaan, sekaligus mengangkat suara masyarakat yang kerap terpinggirkan. 

Fungsi strategis itu seharusnya sejalan dengan penghormatan terhadap hak-hak dasar mereka sebagai pekerja.

Kita mengakui bahwa jurnalis juga buruh dan itu bukan berarti merendahkan profesi ini. Sebaliknya, hal itu menjadi pengingat bahwa idealisme jurnalistik membutuhkan fondasi kesejahteraan. Sulit berharap lahir karya jurnalistik berkualitas dari pekerja media yang terus dibebani ketidakpastian dan tekanan berlebihan.

Di Kalimantan Utara, isu ini justru terasa lebih nyata. Lanskap media di daerah memiliki tantangan berbeda dibanding kota-kota besar. Ruang redaksi cenderung kecil, jumlah personel terbatas, tetapi cakupan liputan sangat luas mulai pemerintahan, kriminalitas, politik, ekonomi, hingga isu perbatasan dan pedalaman.

Seorang jurnalis di Kaltara kerap bukan hanya reporter. Ia merangkap fotografer, videografer, editor, admin media sosial, bahkan memikirkan strategi distribusi konten. Satu hari bisa meliput agenda gubernur di pagi hari, sidang DPRD siang, kejadian kriminal sore, lalu malam masih mengejar breaking news.

Belum lagi tantangan geografis wilayah perbatasan dan daerah terpencil. Akses terbatas, biaya perjalanan tinggi, jaringan internet tidak selalu stabil, serta risiko lapangan yang lebih besar menjadi bagian dari rutinitas. Namun tuntutan tetap sama: berita harus cepat tayang, lengkap, dan akurat.

Persoalan klasik lainnya adalah kesejahteraan. Masih ada jurnalis daerah yang bekerja dengan pendapatan minim, status kerja tidak jelas, atau beban kerja yang tidak sebanding dengan dukungan perusahaan. Di tengah tuntutan profesionalisme, realitas ini menjadi ironi yang tak bisa terus diabaikan.

Kondisi tersebut membuat banyak jurnalis berada dalam posisi dilematis seperti menjaga idealisme jurnalistik sambil menghadapi tekanan ekonomi. Di satu sisi, publik membutuhkan pers yang kritis dan independen. Di sisi lain, jurnalis juga memiliki kebutuhan hidup, keluarga, dan masa depan yang harus diperjuangkan.

Di provinsi ke-34 ini, penghormatan terhadap kerja jurnalistik tidak cukup diwujudkan lewat seremoni Hari Pers Nasional atau ucapan selamat di media sosial. Yang lebih penting adalah membangun ekosistem media yang sehat melalui upah layak, perlindungan kerja, dukungan operasional memadai, dan ruang kerja yang lebih manusiawi.

Sebab, jurnalis di daerah adalah garda depan informasi publik. Mereka bekerja di wilayah dengan tantangan yang tidak ringan, namun tetap memastikan masyarakat mendapat akses berita yang dibutuhkan.

Karena itu, narasi “jurnalis juga buruh” bukan sekadar slogan peringatan Hari Buruh. Ini adalah refleksi nyata atas kondisi pekerja media, termasuk di Bumi Benuanta.

Jika ingin pers lokal kuat, maka kesejahteraan jurnalis tak boleh terus dianggap urusan nomor dua. Pers yang sehat tidak lahir dari pekerja yang dipaksa kuat sendirian.

Momentum Hari Buruh seharusnya menjadi ruang refleksi bagi industri media. sudahkah pekerja pers mendapatkan hak yang layak? Sudahkah perusahaan media membangun ekosistem kerja yang sehat dan manusiawi?

Pers yang kuat lahir dari jurnalis yang terlindungi. Sebab mereka yang setiap hari memperjuangkan hak publik atas informasi, juga berhak memperjuangkan haknya sendiri sebagai pekerja.

Jurnalis juga buruh. Dan itu bukan sesuatu yang perlu disangkal.

Selamat Hari Buruh Internasional (May Day).

Oleh Victor Ratu 

Ketua Serikat Media Siber Indonesia Kalimantan Utara (SMSI Kaltara)

TAGS :

BERITA TERKAIT

bnn1

RSUD dr. H. Jusuf SK Gelar Donor Darah bersama BUMN dan Swasta, Jaga Stabilitas Suplai Darah

Borneoindotimes.com TARAKAN – Dalam memperkuat komitmen memberikan pelayanan kesehatan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. H. Jusuf SK bekerjasama dengan beberapa instansi pemerintah pusat, pemerintah daerah, swasta dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menyelenggarakan kegiatan donor darah. Kegiatan kali ini dilaksanakan oleh Unit Transfusi Darah (UTD) dr. H. Jusuf SK bersama PT. Pertamina EP. Tarakan…

Read More...

Pendaftaran CPNS Kaltara Diperpanjang hingga 10 September 2024

Borneoindotimes.com TANJUNG SELOR – Pendaftaran Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) tahun 2024 di Kalimantan Utara (Kaltara) diperpanjang hingga 10 September 2024. Langkah ini diambil menyusul terjadinya gangguan teknis pada sistem E-Meterai Peruri yang digunakan dalam proses pendaftaran. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Provinsi Kaltara, Andi Amriampa, menyatakan bahwa perpanjangan waktu ini berdasarkan…

Read More...

Pendampingan Desa Sigap di Bulungan Masuki Fase Kedua

Borneo Indo Times.Com Bulungan Kalimantan Utara – Bupati Bulungan, Syarwani, S.Pd, M.Si, Wakil Bupati Bulungan, Ingkong Ala, SE, M.Si dan Sekretaris Daerah, Risdianto, S.Pi, M.Si mengikuti Lokakarya Pendampingan Desa Sigap (Aksi Inspiratif Warga untuk Perubahan) Lanskap Kayan Fase II di Rumah Jabatan Bupati . Terdapat 10 desa pendampingan Sigap fase pertama dan fase kedua ditambah…

Read More...

MP AW Kapanye di Gunung Sari Sampaikan Program

Borneoindotimes.com Berau – Kampanye Paslon Nomor 1 (satu) Madri Pani dan Agus Wahyudi Calon bupati dan wakil bupati Berau paparkan 24 programnya di kampung Gunung Sari area perkebunan kelapa sawit, baru baru ini   Kampanye di hadiri ratusan warga,juru kampanye,dan tim pemenangan Madri Pani.   Ratusan warga yang hadir turut menyambut dengan hangat kampanye pasangan…

Read More...

Gubernur Lepas 32 Umat Kristiani Ziarah Ke Yerusalem

Borneoindotimes.com TARAKAN – Gubernur Kalimantan Utara, Dr. H. Zainal A. Paliwang, S.H., M.Hum, melepas 32 peserta perjalanan ziarah rohani ke Tanah Suci Yerusalem di Bandara Juwata, Kota Tarakan, Kamis (5/9/24). Pelepasan ini bukanlah yang pertama kalinya bagi Gubernur Zainal A. Paliwang. Sebelumnya, ia telah memberangkatkan jamaah umroh bagi umat Muslim. Kini, giliran umat Kristiani yang…

Read More...